REVIEW JURNAL - PENGEMBANGAN UMKM MELALUI TEKNOLOGI DAN INTEGRASI AKSES PERMODALAN

Pengembangan UMKM Melalui Teknologi dan Integrasi Akses Permodalan

Latar Belakang

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memegang peranan yang sangat besar dalam memajukan perekonomian Indonesia (Susilo dkk, 2008). Selain sebagai salah satu alternatif lapangan kerja baru, UMKM juga berperan dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Perkembangan UMKM di Kabupaten Cirebon dari tahun ke tahunnya menunjukan peningkatan yang signifikan. Salah satu daerah di Kabupaten Cirebon yang UMKM nya sedang berkembang adalah Desa Sindangkasih.

Era digitalisasai saat ini, UMKM harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan produktifitas usahanya. Baik dari segi produksi maupun dari segi pemasaran. Kondisi UMKM saat ini yang masih memiliki keterbatasan dalam penggunaan teknologi menyebabkan banayk usaha UMKM yang tidak mampu bersaing dengan pelaku usaha lain baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan peningkatan jejaring bisnis dan akses permodalan untuk UMKM.

Metode

Metode yang diterapkan untuk mencapai pemecahkan permasalahan ini adalah metode sistem tindakan dan pembelajaran yang partisipatif yang dikenal sebagai metode PLA (Participatory Learning and Action). Metode pemberdayaan masyarakat ini dikembangkan oleh Linda Mayoux tahun 2000-an. Dengan metode PLA, proses dan evaluasi dilaksanakan secara partisipatif. PLA merupakan bentuk baru dari metode pemberdayaan masyarakat yang dahulu dikenal sebagai “learning by doing” atau belajar sambil bekerja. Secara singkat, PLA merupakan metode pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar tentang suatu topik, pengolahan, pemeliharaan, dan lain sebagainya setelah itu diikuti aksi atau kegiatan riil yang relevan dengan materi pemberdayaan masyarakat tersebut. Kemudian evaluasi program terhadap proses, pelaksanaan dan outcome dilakukan dengan menggunakan metode evaluasi Snyder.

Hasil dan Pembahasan

Dalam kegiatan pengembangan UMKM di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon melalui Melalui Digitalisasi Tekonolgi Dan Integrasi Akses Permodalan tim melakukan model matrik sebagai indikatos untuk melihat apakah ada peningkatan kapasitas dari UMKM tersebut dalam kegiatan pengembangan UMKM. Secara umum kegiatan pendampingan yang dilakukan sebagai berikut.

  1. Tahap awal: Sosialisasi mengenai perkembangan teknologi bagi pelaku UMKM. Kegiatan ini dilakukan dengan penyampaian materi mengenai teknologi pemasaraan yang berkembang saat ini. Kemajuan teknologi saat ini memudahkan pelaku usaha untuk membuat produknya lebih efektif dan efisien serta ramah lingkungan. Kegiatan ini berhasil menumbuhkan motivasi pelaku UMKM untuk lebih berinovasi dalam mengembangkan produk yang sudah ada.
  2. Tahap kedua: Pelatihan mengenai kemasan produk yang lebih modern dan lebih diminati masyarakat saat ini. Dalam tahap ini pelaku UMKM langsung diberikan pelatihan untuk membuat design kemasan, merk dagang dan komposisi yang tepat dalam pengemasan produknya. Selain itu mereka juga dibekali dengan praktek langsung penjualan produk secara online melalui simulasi kasus.
  3. Tahap ketiga: dalam tahap terakhir ini pelaku UMKM diberikan pelatihan mengenai perencanaan usaha. Mulai dari menghitung biaya produksi, harga pokok produksi, biaya investasi hingga laba yang diinginkan.

Kesimpulan

Pelaku UMKM berhasil membuat produk sesuai dengan permintaan pasar saat ini dengan memanfaatkan perekembangan teknologi saat ini. Peningkatan teknik pemasaran produk UMKM melalui pemasaran online dan pemasaran offline dengan memanfaatkan perekembangan teknologi saat ini. sehingga biaya pemasaraan jadi lebih efektif dan efisien.

Peningkatan distribusi barang hasil produksi UMKM di Desa Sindangkasih. Sebelumnya produk hanya dipasarkan di daerah setempat, saat ini produk yang dihasilkan sudah dipasarkan sampai di luar daerah.

Peningkatan akses permodalan oleh pelaku UMKM di Desa Sindangkasih. Jika dulu produksi yang dihasilkan masih dalam skala kecil dengan kemudahan akses permodalan saat ini, usaha yang mereka jalankan bisa lebih berkembang dengan peningkatan skala produksi.

Saran

  1. Diperlukan dukungan dari semua stakeholder (Dinas Koperasi & UMKM Kab. Cirebon atau lembaga terkait), sehingga pengembangan kapasitas UMKM Tenant dapat berjalan dengan efektif.
  2. Dibutuhkan program lanjutan secar kontinyu sehingga mengarah pada peningkatan kapasitas UMKM Tenant baik dalam bentuk peralatan maupun akses permodalan, serta fasilitasi promosi melalui pameran tingkat Kabupaten, Provinsi, maupun nasional.
  3. Perlu dihasilkan program pengembangan UMKM Tenant melalui teknologi informasi dengan didukung oleh e-marketing berbasis web.

Komentar