PENETAPAN DESA WIRAUSAHA DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA


Nama: Nakhla Yulia
NIM: 190121059
Kelas: 19 AKN 2A
Mata Kuliah: Kewirausahaan Islami

PENETAPAN DESA WIRAUSAHA DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA
Wirausahawan atau enterpreneur adalah orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil keuntungan daripadanya serta mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan kesuksesan (Geoffrey, G. Meredit et al., 1996).
Geliat perekonomian perdesaan seringkali dinilai lambat dibanding pembangunan ekonomi perkotaan. Penataan ekonomi perdesaan perlu segera dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya desa secara optimal dengan cara yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Untuk mencapainya, diperlukan dua pendekatan yaitu:
(a)    Kebutuhan masyarakat dalam melakukan upaya perubahan dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan; dan
(b)   Political will dan kemampuan pemerintah desa bersama masyarakat dalam mengimplementasikan perencanaan pembangunan yang sudah disusun (Rustiadi, 2011).
Potensi sumber daya desa selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Jika pun ada yang memanfaatkan, cenderung eksploitatif dan tidak mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan akibat eksploitasi sumber daya desa. Salah satu solusi penting yang mampu mendorong gerak ekonomi desa adalah mengembangkan kewirausahaan bagi masyarakat desa. Pengembangan desa wirausaha menawarkan solusi untuk mengurangi kemiskinan, migrasi penduduk, dan pengembangan lapangan kerja di desa.
Mulyasari adalah desa di kecamatan Losari, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Pada awalnya desa ini termasuk dalam wilayah desa Losari Lor, namun kemudian melakukan pemekaran pada tahun 1983 sehingga menjadi desa yang mandiri.
Luas wilayah desa Mulyasari mencapai 167,46 Ha (hektar) yang terdiri dari sawah dan tanah kering (untuk ladang, pemukiman, pekarangan) dan memiliki batas wilayah yaitu: desa Kalirahayu (Utara), desa Losari Lor (Selatan), desa Ambulu (Barat), dan batas provinsi Jawa Tengah (Timur). Desa Mulyasari memiliki 5 dusun/lingkungan yang terdiri dari 9 RW dan 31 RT yang mana setiap daerah tersebut dipimpin oleh satu orang yang ditunjuk oleh kuwu.
Mayoritas mata pencaharian di desa Mulyasari ialah buruh tani atau bertani, tapi ada juga yang menjadi buruh migran (TKI), beternak, berdagang, dan nelayan. Untuk tanaman menurut komoditas pada tahun ini terbanyak ialah cabe, bawang merah, dan padi sawah, tapi ada juga yang bertani jagung, kangkung, dan tanaman lainnya tergantung bagaimana musim saat itu. Hasil panen tanaman tersebut pun dipasarkan dengan cara dijual melalui KUD, pengecer, atau dijual ke lumbung desa/kelurahan, dan ada juga yang tidak menjualnya melainkan hanya untuk konsumsi pribadi keluarga.
Potensi unggulan desa Mulyasari sendiri adalah rengginang. Kegiatan usaha produksi rengginang sudah berlangsung lama dan cukup banyak dilakukan masyarakat di Desa Mulyasari. Para pelaku secara umum mengandalkan pengalaman dalam proses produksi mengingat tidak membutuhkan keahlian khusus. Ketersediaan dan kesinambungan bahan baku realtif terjamin. Kegiatan ini dipandang tidak membutuhkan investasi awal relatif tinggi sehingga pelaku usaha tidak banyak mengakses lembaga keuangan untuk penyediaan modal usaha. Selain itu kegiatan tidak membutuhkan teknologi tinggi. Produk yang dihasilkan mampu memberikan kekhasan produk dibanding produk sejenis dari daerah lain.
Sedangkan potensi yang perlu dikembangkan yaitu kegiatan produksi tempe. Pengolahan tempe sendiri masih dalam skala rumah tangga. Berikut beberapa alasan yang menjadi dasar pertimbangan perlu dikembangkannya produksi tempe.
1.      Produk pengolahan tempe menggunakan bahan baku yang mudah didapat.
2.      Produk pengolahan tempe menciptakan nilai tambah bagi desa.
3.      Membuka peluang pekerjaan
Penyusunan strategi pengembangan pengolahan tempe disusun berdasarkan potensi dan permasalahan yang dihadapi. Adapun strategi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut:
1.      Peningkatan Kualitas SDM pengrajin pengolah tempe
2.      Peningkatan kualitas alat produksi
3.      Penyiapan masyarakat

Komentar